nilai ekonomi komoditi kehutanan berupa hutan mangrove


Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                           Medan,   April 2019 

PEMANFAATAN NILAI EKONOMI KOMODITI KEHUTANAN HUTAN MANGROVE
Dosen Penanggung Jawab:
 Dr. Agus Purwoko, S,Hut, M.Si

Disusun Oleh :
Andreas P Turnip
171201122
HUT 4C












PROGAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini dengan baik dan tepat waktu. Paper ini berjudul Pemanfaatan Nilai Ekonomi Komoditi Kehutanan Hutan Mangrove”. Penulisan paper ini bertujuan untuk memberikan sumbangan pemikiran dan ilmu mengenai manfaat ekonomi sumberdaya hutan yang terdapat pada Hutan Mangrove.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si atas arahan dan bimbingannya. Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik yang konstruktif sangat diharapkan demi kesempurnaan dan kemajuan bersama. Semoga paper ini dapat bermanfaat.
                                                                                                                       

 Medan,    April 2019

Penulis







BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan adalah suatu kumpulan bidang-bidang lahan yang ditumbuhi (memiliki) atau akan ditumbuhi tumbuhan pohon dan dikelola sebagai suatu kesatuan yang utuh untuk mencapai tujuan pemilik lahan berupa kayu atau hasil-hasil lain yang berhubungan. Hal ini menggambarkan kondisi biofisik hutan sebagai hamparan lahan yang ditumbuhi vegetasi yang didominasi pepohonan, dan fungsi ekologi hutan sebagai masyarakat tumbuh-tumbuhan dalam satu kesatuan ekosistem yang mampu menciptakan iklim mikro.
Keanekaragaman hayati atau biological diversity (biodiversity) merupakan istilah yang mengacu pada berbagai kehidupan di bumi. Secara umum, kajiannya menyangkut tiga tingkatan, yaitu: keanekaragaman genetik, keanekaragaman jenis, dan keanekaan ekosistem. Di alam, beranekaragam jenis hayati umumnya hidup dalam kondisi lingkungan tertentu, hasil interaksi antara jenis-jenis hayati (biotik) dengan faktor abiotik (antara lain tanah, udara, air, temperatur, kelembaban) di sekitarnya. Selanjutnya, sistem hubungan timbal balik antara jenis-jenis hayati dengan lingkungannya membentuk suatu sistem ekologi atau ekosistem. Ekosistem di alam banyak ragamnya. Misalnya, ekosistem hutan, pesisir, lautan dan lain-lain. Berbagai ragam varietas, jenis atau pun ekosistem itu memberikan manfaat pada manusia. Oleh karenanya, semua itu perlu dikelola oleh manusia dengan sebaik-baiknya, agar berbagai keuntungan tersebut tidak punah. Salah satu caranya adalah dengan melakukan konservasi.
Wilayah pesisir dan lautan merupakan salah satu wilayah yang kaya akan sumberdaya alam hayati dan non hayati. Salah satu sumberdaya alam hayati tersebut adalah hutan mangrove. Keberadaan hutan mangrove ini merupakan ciri khas dari dari wilayah pesisir yang ada di daerah tropis dan sub tropis. Dari sekitar 16,9 juta ha hutan mangrove yang ada di dunia, sekitar 27 % berada di Indonesia. Hutan mangrove tersebut memberikan manfaat dan fungsi yang penting bagi kelangsungan hidup manusia sebagai pengguna sumberdaya.
Hutan mangrove adalah ekosistem hutan peralihan antara daratan dan lautan yang diketahui memiliki banyak manfaat. Berdasarkan data ITTO (2012), luas hutan mangrove di Indonesia adalah 3.189.000 hektar. Potensi fisik hutan mangrove yaitu pencegah intrusi air laut ke darat, perluasan lahan ke arah laut dan mencegah pencemaran air tambak. Potensi ekologi hutan mangrove yaitu sebagai tempat pemijahan (spawning ground), daerah asuhan (nursery ground), daerah mencari makan (feeding ground) bagi organisme disekitarnya dan penyedia pakan bagi biota laut,seperti udang dan kepiting. Hasil hutan mangrove baik kayu maupun bukan kayu dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan makanan maupun kayu bakar sehingga memberi kontribusi dalam upaya peningkatan kondisi ekonomi masyarakat. Namun sering kali, pemanfaatan hutan mangrove kurang mempertimbangkan aneka produk dan jasa yang dapat dihasilkan. Masyarakat hanya menilai hutan mangrove dari segi ekonominya saja, tanpa memperhitungkan manfaat fisik dan ekologi dari hutan mangrove.

1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari paper ini adalah:
1.      Apa yang dimaksud dengan hutan mangrove?
2.      Apa saja fungsi hutan mangrove ?
3.      Apa saja nilai ekonomi hutan mangrove ?
1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari maklah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui tentang  hutan mangrove
2.      Untuk mengetahui apa fungsi hutan mangrove
3.      Untuk mengetahui apa saja nilai ekonomi hutan mangrove
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Mengenal Hutan Mangrove
Hutan mangrove adalah ekosistem hutan peralihan antara daratan dan lautan yang diketahui memiliki banyak manfaat. Berdasarkan data ITTO (2012), luas hutan mangrove di Indonesia adalah 3.189.000 hektar. Keberadaan hutan mangrove ini merupakan ciri khas dari dari wilayah pesisir yang ada di daerah tropis dan sub tropis. Dari sekitar 16,9 juta ha hutan mangrove yang ada di dunia, sekitar 27 % berada di Indonesia. Beberapa karakteristik atau ciri- ciri yang dimiliki oleh hutan mangrove ini antara lain adalah sebagai berikut:
·         Didominasi oleh tumbuhan mangrove atau tumbuhan bakau, yakni tumbuhan yang mempunyai akar mencuat ke permukaan
·         Tumbuh di kawasan perairan payau, yakni perairan yang terdiri atas campuran air tawar dan air asin
·         Sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut
·         Keberadaannya terutama di daerah yang mengalami pelumpuran dan juga terjadi akumulasi bahan organic
Di Indonesia sendiri, hutan mangrove yang paling luas terdapat di sekitar Dangkala Sunda yang relatif tenang. Tempat ini juga merupakan tembat bermuaranya berbagai sungai- sungai besar, yakni di pantai timur Sumatera dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Selain itu hutan mangrove terdapat di pantai utara Pulau Jawa, namun di wilayah ini kondisi hutan mangrove yang ada telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan yang ada.
 Hutan mangrove tersebut memberikan manfaat dan fungsi yang penting bagi kelangsungan hidup manusia sebagai pengguna sumberdaya. Fungsi utama hutan mangrove sacara spesifik ada tiga, yaitu fungsi fisik, biologis, dan ekonomi. Fungsi fisik dari hutan mangrove ini sebagai penjaga garis pantai dari abrasi agar tetap stabil, fungsi biologinya adalah sebagai pemijahan, daerah asuhan, dan untuk mencari makan ikan-ikan kecil. Sedangkan Fungsi ekonomi dari hutan mangrove adalah sebagai lahan untuk produksi pangan dan penghasil kayu. Fungsi mangrove akan berjalan dengan baik jika manusia mampu memanfaatkannya dengan baik dan berkelanjutan.
2.2 Mengetahui Fungsi Hutan Mangrove
Beberapa fungsi atau manfaat yang dimiliki oleh hutan mangrove ini antara lain adalah:
1.      Fungsi ekonomi. Dilihat dari segi ekonomisnya, hutan mangrove ini memiliki fungsi sebagai berikut:
  • Menghasilkan beberapa jenis kayu yang kualitasnya diakui baik,
  • Menghasilkan hasil- hasil non kayu. Hasil non kayu yang dihasilkan hutan ini dikenal sebagi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Hasil hutan bukan kayu ini biasanya serupa arang kayu, tanin, bahan pewarna, kosmetik, hewan, serta bahan pangan dan juga minuman.
2.      Fungsi ekologis. Dilihat dari segi ekologisnya, hutan mangrove ini memiliki fungsi sebagai berikut:
  • Hutan mangrove memiliki fungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi ombak- ombak laut yang bisa mengikis pinggir- pinggir pantai,
  • Menjadi habitat berbagai jenis hewan. Hewan- hewan yang hidup di sekitar pantai antara lain biawak air, kepiting bakau, udang lumpur, siput bakau, dan berbagai jenis ikan belodok,
  • Menjadi tempat hidup atau habitat bagi banyak tumbuhan atau flora.
2.3            Mengenal Sejauh Apa Nilai Ekonomi Hutan Magrove
Hutan mangrove memiliki peranan cukup penting yakni sebagai sumber mata pencaharian, karena dapat menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi terutama sebagai penghasil produk kayu, ikan, kepiting, kerang dan lain-lain, serta sebagai wahana rekreasi dan wisata alam maupun pendidikan. Dewasa ini, peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan semakin besar, oleh karena adanya berbagai dampak merugikan yang dirasakan diberbagai tempat akibat hilangnya hutan mangrove, seperti tsunami, intrusi air laut, dan lain-lain.
Sebagai sumberdaya alam yang memiliki potensi ekonomi, pemanfaatan hutan mangrove perlu dilakukan sebaik-baiknya sehingga dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan dengan tetap memperhatikan kelestarian, sehingga manfaat yang diperolehpun dapat berkelanjutan (sustainable).  Namun, terkadang pemanfaatan tersebut tidak memperhatikan batas-batas kemampuan atau daya dukung lingkungan baik secara biologis, fisik, ekologis maupun secara ekonomis, sehingga menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat.  Masalah mendasar dalam pengelolaan sumberdaya alam menurut Fauzi, A. (2004) adalah upaya mengelolah sumberdaya alam tersebut agar menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi manusia tanpa mengorbankan kelestarian sumberdaya alam itu sendiri. Salah satu bentuk pemanfaatan tersebut adalah eksploitasi kayu sebagai hasil utama hutan mangrove secara besar-besaran.  Hasil olahan kayu, umumnya dijadikan kayu bakar oleh masyarakat lokal yang berprofesi sebagai pengolah kayu bakar. Dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat rusaknya hutan mangrove adalah penurunan pendapatan masyarakat yang sangat dirasakan terutama oleh nelayan dan pencari kayu bakar.  Semakin berkurangnya ketersediaan sumberdaya alam hutan mangrove, maka biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh sumberdaya tersebut ikut meningkat.  Peningkatan biaya tersebut akan memgurangi pendapatan masyarakat.
Berbagai jenis komoditas yang bernilai ekonomi baik berupa hasil hutan, seperti; kayu untuk kayu bakar, bahan bangunan, bahan baku arang, serta komoditas hasil perikanan, seperti; ikan, udang, kepiting dan kerangkerangan.  Potensi tersebut merupakan asset yang besar bagi pembangunan ekonomi masyarakat di daerah apabila dikelolah secara lestari.  Selain itu, pemanfaatan dan
pengelolaan hutan mangrove dalam menunjang ekonomi masyarakat pesisir menjadi perhatian khusus oleh karena peran dan fungsi hutan mangrove yang beranekaragam, seperti sebagai daerah pemijahan, pembesaran dan mencari makan berbagai jenis biota laut, serta fungsi perlindungan dan pengamanan pantai.
            Manfaat Ekonomi Langsung atau Dierct Use Value adalah merupakan jenis manfaat yang lansung dapat diperoleh dari hutan mangrove atau sebagai bentuk manfaat aktual yang dilakukan oleh masyarakat, seperti mengolah kayu bakar, menangkap ikan, menangkap kepiting, menangkap udang, mengumpulkan kerang dan lain-lain. Manfaat Ekonomi Tidak Langsung. Perhitungan manfaat tidak langsung hutan mangrove digunakan metode replacement cost. Manfaat tidak langsung dari hutan mangrove diperoleh dari suatu ekosistem secara tidak langsung, yakni berupa manfaat fisik, biologis dan ekologis. Manfaat tidak langsung fisik yakni sebagai penahan abrasi pantai dinilai dari adanya pembuatan bangunan air yaitu pemecah gelombang ombak (break water); manfaat tidak langsung biologis yakni sebagai penyedia bahan-bahan organik bagi biota yang hidup di dalam kawasan hutan mangrove maupun sebagai tempat pemijahan dan asuhan dan manfaat tidak langsung ekologis yakni diestimasi dari adanya serapan karbon.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Hutan mangrove adalah ekosistem hutan peralihan antara daratan dan lautan yang diketahui memiliki banyak manfaat. Keberadaan hutan mangrove ini merupakan ciri khas dari dari wilayah pesisir yang ada di daerah tropis dan sub tropis.
2. Beberapa fungsi atau manfaat yang dimiliki oleh hutan mangrove ini antara lain adalah fungsi ekologis dan fungsi ekonomis.
3. Nilai ekonomi hutan mangrove ada berupa nilai ekonomi secara langsung seperti manfaat actual yang dikelola masyarakat seperti kayu bakar, dan nilai ekonomi secara tidak langsung seperti mencegah intrusi air laut.

DAFTAR PUSTAKA
Ariftia, R, Rommy, dan Susni. Nilai Ekonomi Total Hutan Mangrove Desa Margasari Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur. Jurnal Sylva Lestari. 2 (3) : 20-21.
Irwanto. 2006. Prespektif Silvika dalam Keanekaragaman Hayati dan Silvikultur. Yogyakarta.
Kustanti, A. 2011.Manajemen Hutan Mangrove. Bogor: Institut Pertanian Bogor Press.
Puspitojati, T. 2011. Persoalan Definisi Hutan dalam Hubungannya Dengan Pengembangan HHBK Melalui Hutan Tanaman. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan. 8(3): 210 – 227.
Rakhfid, A dan Rochmady. Analisis Nilai Ekonomi Hutan Mangrove  di Kabupaten Muna (Studi Kasus Di Desa Labone Kecamatan Lasalepa dan Desa Wabintingi Kecamatan Lohia). Jurnal ilmiah agribisnis dan perikanan. 6 (2) : 84-90.


Komentar