ASPEK SOSIOLOGI MASYARAKAT BATAK TOBA


Tugas Sosiologi Kehutanan                                                   Medan,  Oktober 2019
ASPEK-ASPEK SOSIOLOGI MASYARAKAT SUKU BATAK TOBA
Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh:
Andreas P. Turnip
171201122
Konservasi Sumberdaya Hutan (KSH 5)










PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling berinteraksi sosial dalam kesatuan dan jaringan. Interaksi sosial yang dimaksud adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok dalam masyarakat. Manusia disebut sebagai makhluk sosial, artinya manusia tidak dapat hidup hanya sendiri, terutama dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Interaksi sosial antara individu dengan individu terwujud dalam komunikasi verbal maupun komunikasi non-verbal atau isyarat, seperti jabat tangan, percakapan, perkelahian, dan sorot mata. Sedangkan interaksi sosial antara individu dengan kelompok menunjukkan kepentingan individu yang berhadapan dengan kepentingan kelompok dan sebaliknya, seperti perintah pemimpin kepada kelompok dan sanksi sosial atas nama kelompok terhadap individu. Dan interaksi sosial antara kelompok dengan kelompok terwujud apabila individu dalam kelompok telah memiliki kesamaan kepentingan untuk diinteraksikan pada kelompok lain, seperti kontak sosial antara pendukung tim sepak bola. Individu manusia tidak dapat berdiri sendiri, demikian juga satu kelompok tidak dapat berdiri sendiri, oleh karena itu mereka melakukan interaksi sosial. Interaksi sosial oleh individu dan kelompok yang dilakukan dalam satu kesatuan dan jaringan akan membentuk masyarakat. Karena dengan adanya kesatuan dan jaringan antara individu dan kelompok akan membentuk masyarakat yang memiliki nilai sosial dan norma sosial. Nilai sosial dan norma sosial memiliki peranan penting dalam membangun peradaban masyarakat. Nilai sosial dan norma sosial ini yang mengatur manusia dalam tata kehidupan bermasyarakat, sehingga tercapai suatu bentuk keteraturan yang berlandaskan pada sistem budaya masing-masing dalam masyarakat.
            Interaksi sosial dalam masyarakat yang dinamis akan melahirkan kebudayaan dan pengetahuan masyarakat. Perkembangan kebudayaan dan pengetahuan merupakan bentuk peradaban masyarakat. Kebudayaan merupakan suatu hasil pengalaman sosial. Dalam melakukan interaksi sosial dipengaruhi tindakan sosial oleh anggota masyarakat, karena pada dasarnya tindakan sosial merupakan perwujudan dari interaksi sosial. Tindakan sosial, interaksi sosial, dan struktur sosial suatu masyarakat selalu mengalami perubahan dan perkembangan secara cepat maupun lambat sehingga disebut sebagai masyarakat yang dinamis. Masyarakat suku Batak memiliki dinamika masyarakat dan mengalami perubahan sosial dalam usaha membangun peradabannya. Seperti uraian tentang masyarakat yang telah dijelaskan, perubahan sosial masyarakat ada yang berjalan cepat maupun lambat. Dalam sejarah suku Batak pernah terjadi perubahan sosial cepat pada perilaku sosial masyarakatnya. Abad ke-19, suku Batak masih memiliki peradaban yang cenderung primitif, seperti aliran kepercayaan animisme-dinamisme, permusuhan antar kelompok, perjudian, hingga kanibalisme. Mereka menganut agama Parmalim dan menyembah kepada Mulajadi Nabolon yang dipercayai sebagai penguasa di atas langit.


1.2 Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kelompok dan struktur sosial masyarakat suku Batak Toba?
2.      Bagaimana interaksi sosial masyarakat suku Batak Toba?
3.      Bagaimana nilai sosial masyarakat suku Batak Toba?
4.      Bagaimana perubahan sosial masyarakat suku Batak Toba?

1.3 Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui kelompok dan struktur sosial masyarakat suku Batak Toba
2.      Untuk mengetahui interaksi sosial antar masyarakat suku Batak Toba
3.      Untuk mengetahui nilai sosial masyarakat suku Batak Toba
4.      Untuk mengetahui perubahan sosial masyarakat suku Batak Toba


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kelompok Sosial Masyarakat Batak Toba
            Orang Batak Toba sebagai salah satu sub-suku Batak, memiliki perangkat struktur dan sistem sosial warisan dari nenek moyang. Struktur dan sistem sosial berfungsi mengatur dan mengendalikan tata hubungan sesame anggota masyarakat, baik yang menjadi kerabat dekat, kerabat, luas, saudara satu marga (dongan sabutuha/dongan tubu) maupun masyarakat umum. Struktur sosial yang dimiliki oleh Batak Toba pada hakekatnya berdasarkan system sosial marga. Dari garis keturuan bapak (patrilineal), mereka mempunyai salah satu unsur struktur sosial yang disebut dongan sabutuha atau dongan tubu. Berdasarkan sistem perkawinan, sumber dari pihak istri menjadi unsur kedua dalam struktur sosial yang dinamakan hulahula. Sementara itu, kelompok sosial pengambil istri menjadi unsur sosial ketiga yang diberi julukan kerabat boru. Dengan demikian dalam struktur sosial orang Batak Toba terdapat tiga unsur dalam sistem sosial yang didasarkan pada garis keturunan dan sistem perkawinan. Ketiga unsur strata dalam sistem sosial yang demikian itu disebut dalihan na tolu. Ketiga unsurnya saling terikat dan saling membutuhkan. Pada dasarnya ketiga unsur dalam dalihan na tolu tidak pernah ada yang saling melebihi.
            Dalam kehidupan sehari-hari keberadaan ketiga unsur dalam sistem sosial itu ternyata diperkokoh dengan sistem kepercayaan budaya Batak Toba, sehingga kedudukan hulahula lebih tinggi dan lebih istimewa. Simbol tingginya kedudukan sosial pihak hulahula dipandang sebagai sumber restu yang bernilai kepercayaan. Oleh karena itu, dalam kosep kemasyakatan dalihan na tolu diperintah atau disuruh apalagi dipaksa oleh pihak boru. Hal ini diperkuat dengan pepatah adat Batak Toba yang berbunyi somba mar hulahula (sembah sujud kepada pihak istri). Sembah sujud dalam konteks tingkah laku, sikap pandang, pemberian, pelayanan sosial dan pelayanan adat.

2.2 Interaksi Sosial Masyarakat Batak Toba                          
            Sistem interaksi pada masyarakat Batak adalah Dalihan Na Tolu ”Tungku Nan Tiga”, yang terdiri atas dongan tubu (pihak semarga), boru (pihak penerima istri), dan hula-hula (pihak pemberi istri). Dalam interaksinya, setiap orang akan memiliki sikap berperilaku yang berbeda pada masing-masing pihak itu. Orang akan manat mardongan tubu ”hati-hati pada teman semarga”, elek marboru ”membujuk pada pihak penerima istri” , dan somba marhula-hula “hormat pada pihak pemberi istri”. Jelas bahwa nilai interaksional ini hanya bisa dipahami, bahkan dijelaskan, setelah memiliki dan memahami nilai identitas. Visi orang Batak sangat jelas, yakni ingin memiliki Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon. Istilah hagabeon berarti ”mempunyai keturunan terutama anak laki-laki”, hamoraon berarti ”kekayaan atau kesejahteraan”, dan hasangapon berarti ”kehormatan”. Hamoraon dan hagabeon sangat jelas indikatornya, tetapi hasangapon agak abstrak: hasangapon adalah hagabeon dengan hamoraon. Untuk mencapai hagabeon, orang harus menikah; untuk mencapai hamoraon, orang harus mandiri, kerja keras, gotong royong, dan berpendidikan, yang kesemuanya membuat orang dapat mencapai hasangapon. Oleh karena hagabeon-hamoraon-hasangapon itu merupakan visi dan tujuan kehidupan orang Batak, maka itulahyang disebut dengan nilai terminal. Akhirnya, nilai utama Budaya Batak, yakni identitas sebagai instrumental values, sistem interaksi sebagai interactional values, dan visi sebagai terminal values dapat difungsikan dan diwariskan dalam pembentukan sumber daya manusia untuk mencapai keberhasilan pembangunan suku bangsa Batak.

2.3 Nilai Sosial Masyarakat Batak Toba
             Toba merupakan salah satu dari lima suku Batak. Istilah Batak Toba muncul karena kebanyakan polulasi suku ini mendiami sekitar Danau Toba; juga disebut halak Samosir atau orang Samosir karena leluhur mereka berasal dari pulau Samosir yang terletak di tengah Danau Toba. Falsafah hidup orang Toba berpijak pada keyakinan kosmologi religius mereka. Kosmologi Batak mengenal alam yang terbagi atas tiga banua, yakni banua ginjang atau dunia atas, banua tonga atau dunia tengah dan banua toru atau dunia bawah. Mitologi Batak menhisahkan bahwa banua ginjang dihuni oleh debata tertinggi Opung Mulajadi Nabolon, yang tinggal di langit ketujuh. Banua ginjang, selain dihuni oleh Opung Mulajadi Nabolon, juga ada Tuan Batara Guru Doli, Tuan Sorimangaraja, Tuan Papan tinggi dan debata Asiasi. Keempat debata ini tinggal di langit keenam. Para dewa ini adalah sumber berkat bagi manusia. Tuan Batara Guru Doli adalah pemberi berkat adat istiadat dan hukum hukum; Tuan Sorimangaraja adalah pemberi kesucian, pelindung ladang, kampung dan anakanak; Tuan Papan Tinggi adalah pemberi kekayaan dan umur panjang sekaligus sumber konflik dan peperangan; dan debata Asiasi adalah pemberi anugerah belaskasih.
            Banua tonga dihuni oleh manusia dari hasil perkawinan antara Debata Siboru Deak Parujar dengan Tuan Ruma Uhir Si Tuan Ruma Gorga yang datang dari banua ginjang. Leluhur orang Batak berasal dari putra pasangan ini, yakni Si Raja Ihat Manusia. Banua tonga, selain manusia, juga dihuni roh para leluhur, yang disebut dengan begu, sumangot dan sombahon. Banua tongga juga didiami para dewa yang merepresentasikan kekuatan Opung Mulajadi Nabolon, antara lain Nai Sorimala Matabun yang menanamkan pohon kehidupan untuk menghubungkan banua tongah dengan banua ginjang, debata Idup yang menolong pasangan suami istri untuk memperoleh keturunan, debata Boraspati Ni Tano yang memberi kesuburan, Boru Saniang Nata sebagai dewata air yang memberi rejeki dan perlindungan bagi para nelayan, dan debata Boru Namora sebagai pemberi angin.

2.4 Perubahan Sosial Masyarakat Suku Batak Toba
            Abad ke-19, suku batak masih memiliki peradaban yang cenderung primitif, seperti aliran kepercayaan animisme-dinamisme, permusuhan antar kelompok, perjudian, hingga kanibalisme. Mereka percaya kepada Mulajadi Nabolon yang berkuasa diatas langit. Kekuasaannya terwujud dalam Debata Na Tolu, yaitu tondi , sahala , dan begu . Masa kolonialisme saat itu berusaha masuk ke dalam masyarakat suku Batak, untuk menguasai daerah-daerah batak di Sumatera Utara. Perilaku kanibalisme suku Batak sangat menakutkan dan mengancam bagi orang luar daerah yang hendak datang ke daerah-daerah batak, terutama bagi misionaris keagamaan. Masyarakat suku Batak menganggap orang yang berasal dari luar kelompok mereka sebagai musuh, sebab sering terjadi permusuhan antar kelompok-kelompok suku Batak. Para misionaris Injil dari Inggris, Amerika, dan Jerman, mengalami ancaman dibunuh karena dicurigai sebagai agen penjajah, yang mereka sebut Si Bottar Mata .Tahun 1517 menjadi awal reformasi Protestan (Reformasi Jerman) dan Anglikanisme (Reformasi Inggris) ketika Martin Luther mempublikasikan “Sembilan Puluh Lima Tesismengenai Kuasa dan Efikasi Indulgensi” . Penyebaran agama Kristen Protestan dilakukan keseluruh benua, termasuk wilayah nusantara. Ini yang Soekarno sebut Ketuhanan yang berbudaya, ketika Soekarno merumuskan ideologi negara Indonesia. Masyarakat asli suku Batak dengan segala karateristik peradabannya mengalami proses perubahan sosial menjadi masyarakat yang lebih humanis, religius, dan nasionalis melalui misi keagamaan dalam gereja HKBP oleh Dr. Ludwig Ingwer Nommensen.


BAB III
KESIMPULAN
            Orang Batak Toba sebagai salah satu sub-suku Batak, memiliki perangkat struktur dan sistem sosial warisan dari nenek moyang. Struktur dan sistem sosial berfungsi mengatur dan mengendalikan tata hubungan sesame anggota masyarakat, baik yang menjadi kerabat dekat, kerabat, luas, saudara satu marga (dongan sabutuha/dongan tubu) maupun masyarakat umum. Kosmologi Batak mengenal alam yang terbagi atas tiga banua, yakni banua ginjang atau dunia atas, banua tonga atau dunia tengah dan banua toru atau dunia bawah. Mitologi Batak menhisahkan bahwa banua ginjang dihuni oleh debata tertinggi Opung Mulajadi Nabolon, yang tinggal di langit ketujuh. Banua ginjang, selain dihuni oleh Opung Mulajadi Nabolon, juga ada Tuan Batara Guru Doli, Tuan Sorimangaraja, Tuan Papan tinggi dan debata Asiasi.





DAFTAR PUSTAKA

Manullang, Sokemd A. 2018. Perubahan Sosial Suku Batak: dari Kanibalisme ke Humanisme. Universitas Jember.
Nainggolan, T. 2014. Batak Toba: Sejarah dan Transformasi Religi. Medan: Bina Media Perintis.
Ndona, Yakobus. 2018. Kemanusiaan dalam Falsafah Hidup Masyarakat Batak Toba. Jurnal Citizenship. 1 (1) : 15-22.
Sugiyarto.2017. Menyimak (Kembali) Integrasi Budaya di Tanah Batak Toba. Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi. Universitas Diponegoro.Semarang.


Komentar

  1. Makasih gan bermanfaat sekali bagi saya, saya batak toba tetapi kelahiran riau. Semoga antar suku di indonesia ini lebih bertoleransi lagi. Next ditunggu karya selanjutnya gan.

    BalasHapus
  2. Infonya sangat lengkap.
    Semoga tampilannyaa lebih diperbaiki lg :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sarannya sangat membantu saya untuk penulisan blog selanjutnya.. terimakasih

      Hapus
  3. Terimakasih min blogger anda sangat luar biasa sangat informatif dan mengedukasi kepada para reeder yang belum mengetahui lebih luas lagi tentang kebudayaan masyarakat Toba.
    Horas Batak.

    BalasHapus
  4. Wah mantap infonya jelas, sangat cocok bagi yg ingin mengetahui dan mendalami ttg suku Batak toba, sukses terus 👍

    BalasHapus

Posting Komentar